Teh Hangat di Pos Ronda
Setiap malam, tepat setelah azan Isya selesai berkumandang dari musala ujung gang, Pak Karim berjalan pelan ke pos ronda dengan termos merah di tangan kanan dan senter tua di tangan kiri. Lampu bohlam kuning di bawah atap pos itu menyala lebih dulu darinya, seolah sudah hafal jadwal.
Ia selalu melakukan hal yang sama. Menyapu bangku kayu dengan telapak tangan, meletakkan senter, lalu menuang teh ke dalam dua gelas. Satu gelas ia pegang. Satu lagi ia letakkan di ujung bangku, agak jauh, menghadap jalan.
Warga kampung sudah lama melihat kebiasaan itu. Ada yang mengira Pak Karim menunggu teman ronda yang tak pernah datang. Ada yang bilang ia lupa. Anak-anak menyebutnya “teh untuk hantu” sambil tertawa, lalu lari ketika Pak Karim menoleh dan tersenyum.
Malam itu, hujan baru saja reda. Jalan masih basah dan bau tanah naik ke udara. Rafi, mahasiswa yang baru tiga bulan mengontrak rumah di dekat pos, pulang terlambat dari kerja paruh waktunya. Bajunya setengah basah, wajahnya lelah, dan ponselnya mati.
“Mampir dulu, Nak,” kata Pak Karim. “Bangkunya kering di sini.”
Rafi ragu sebentar, lalu duduk. Pak Karim menggeser gelas kedua ke arahnya. Tehnya masih hangat. Manisnya pas, dengan sedikit rasa jahe di ujung lidah.
“Terima kasih, Pak,” kata Rafi setelah beberapa teguk. Lalu, karena rasa penasaran sudah lama ia simpan, ia bertanya, “Boleh saya tahu, Pak, gelas ini sebenarnya untuk siapa?”
Pak Karim memandangi jalan yang mengilap oleh sisa hujan. Lama ia diam, sampai Rafi mengira pertanyaannya tidak sopan.
“Dulu, waktu saya seumuranmu,” kata Pak Karim akhirnya, “saya merantau ke kota. Kerja apa saja. Kuli, tukang parkir, jaga toko. Suatu malam saya pulang hujan-hujanan, lapar, uang tinggal receh. Saya lewat pos ronda di kampung orang. Ada bapak tua di sana. Saya tidak kenal dia, dia juga tidak kenal saya.”
Ia tersenyum kecil. “Dia cuma bilang, ‘Mampir dulu, Nak.’ Terus dia kasih saya teh. Satu gelas teh hangat. Kami ngobrol sampai jam satu. Dia tidak kasih saya uang, tidak kasih saya kerja. Tapi malam itu saya pulang dengan perasaan bahwa saya masih manusia, bahwa ada orang yang mau melihat saya.”
“Bapak itu siapa?” tanya Rafi.
“Saya tidak pernah tahu namanya. Waktu saya kembali minggu depannya, posnya sudah dijaga orang lain. Katanya bapak itu sudah pulang ke kampungnya.” Pak Karim mengangkat gelasnya. “Jadi sejak saya punya pos ronda sendiri, saya selalu siapkan satu gelas lagi. Untuk siapa saja yang lewat dan sedang butuh duduk sebentar.”
“Tapi kebanyakan malam tidak ada yang mampir, kan, Pak?”
“Betul. Kebanyakan malam tehnya dingin, lalu saya siram ke pot bunga itu.” Ia menunjuk deretan pot di sisi pos, penuh bunga kertas yang tumbuh subur. “Tidak apa-apa. Yang penting gelasnya siap. Kita tidak pernah tahu malam mana seseorang sedang membutuhkannya.”
Rafi menunduk memandangi tehnya. Ia teringat tiga bulan terakhir: kamar kontrakan yang sunyi, tugas kuliah yang menumpuk, telepon dari ibu yang sering ia jawab singkat karena lelah. Ia tidak pernah bercerita kepada siapa pun bahwa beberapa malam ia hampir menyerah dan ingin pulang saja.
Malam itu ia bercerita. Tentang kuliahnya, tentang ibunya, tentang rasa takut gagal. Pak Karim mendengarkan tanpa memotong, sesekali mengangguk, sesekali menuang teh lagi.
Jam di musala sudah lewat pukul sebelas ketika Rafi berdiri. “Besok saya boleh mampir lagi, Pak?”
“Gelasnya selalu ada,” jawab Pak Karim.
Beberapa tahun kemudian, warga kampung melihat pemandangan yang sedikit berbeda di pos ronda. Pak Karim masih datang setiap malam dengan termos merahnya. Tapi kini ada seorang laki-laki muda yang sering duduk di sebelahnya, membantu menyapu bangku, menyalakan lampu, dan menuang teh.
Dan di ujung bangku, menghadap jalan, kini ada tiga gelas.