Catatan Kecil di Meja Kerja
Hai, sini duduk dulu. Aku mau cerita soal temanku, Rara. Nggak panjang kok, tapi lumayan bikin mikir.
Jadi minggu lalu, atasan Rara nitip sesuatu. Katanya, tolong rekap data klien lama buat arsip digital. Deadline-nya Jumat.
Rara sih orangnya rajin. Tapi minggu itu lagi banyak banget kerjaan lain yang masuk. Meeting, laporan mendadak, plus urusan kecil-kecil yang numpuk.

Kamu pernah nggak, merasa udah niat banget ngerjain sesuatu, eh malah kelewat karena sibuk?
Teman ceritaNah, itu dia. Rasa bersalahnya kadang muncul belakangan, ya. Rara juga gitu.
Teman ceritaAlhamdulillah kalau begitu. Tapi kadang hal tak terduga bisa bikin kita lengah juga, kan?
Teman ceritaWajar, kita manusia. Justru dari situ kita belajar buat nyari cara yang pas buat diri sendiri.
Singkat cerita, Jumat sore tiba. Atasan Rara nanya, 'Rara, rekapannya sudah bisa saya cek?'
Rara langsung kaget. Jantungnya kayak copot. Dia lupa total. Padahal dia ingat sempat nulis di sticky note kecil, tapi kertasnya entah ke mana.
“Maaf, Pak. Saya belum sempat mengerjakannya. Saya benar-benar lupa.”
Rara nggak cari alasan. Dia ngaku polos. Atasannya diam sebentar, terus bilang, 'Besok Senin tolong dirapikan. Lain kali, jangan hanya mengandalkan ingatan.'

Rara pulang dengan perasaan campur aduk. Malu, kesal sama diri sendiri, tapi juga lega karena atasannya nggak marah besar.
Kalau kamu jadi Rara, apa yang kamu lakukan malam itu?
Teman ceritaItu pilihan yang bertanggung jawab. Rara sempat kepikiran begitu, tapi dia juga lagi capek banget.
Teman ceritaMasuk akal. Kadang badan butuh jeda biar besok lebih fokus. Rara juga akhirnya memilih ini.
Teman ceritaItu manusiawi. Tapi kalau berlarut-larut, malah makin berat. Rara berusaha nggak tenggelam di situ.
Malamnya, Rara duduk di kamar. Dia buka laptop, tapi bukan untuk kerja. Dia malah nulis di buku catatan kecilnya.
Dia nulis apa yang bikin dia lupa, kapan dia mulai kehilangan jejak, dan cara biar nggak keulang. Lalu dia berdoa pelan, minta dikuatkan dan dimaafkan.
“Ya Allah, maafkan kelalaianku. Bantu aku jadi orang yang lebih amanah.”
Besoknya, Sabtu pagi, Rara ke kantor sendirian. Dia kerjakan rekapannya pelan-pelan sambil ditemani teh hangat. Sorenya selesai.

Senin pagi, dia serahkan hasilnya. Atasannya cuma bilang, 'Terima kasih, Rara. Lain kali pakai pengingat, ya.'
Sejak itu, Rara selalu taruh sticky note di ujung monitor. Bukan satu, tapi tiga. Satu untuk deadline, satu untuk prioritas, satu untuk hal kecil yang gampang lupa.
Kamu tim yang mana, nih? Tim nulis di kertas, di HP, atau diingat di kepala aja?
Teman ceritaKlasik dan ampuh. Ada rasa puasnya sendiri kalau bisa nyoret daftar tugas.
Teman ceritaPraktis banget, apalagi kalau HP selalu nempel. Asal jangan cuma notifikasi doang tanpa dibaca.
Teman ceritaBerani juga, hehe. Tapi buat yang gampang lupa kayak Rara, cara itu kurang aman.

Intinya, lupa itu manusiawi. Tapi cara kita menanggapinya yang bikin beda. Rara nggak jadi sempurna, tapi dia belajar buat lebih bisa diandalkan.
Makasih ya udah dengerin cerita Rara. Semoga harimu nggak banyak yang kelewat.
Pertanyaan untukmu
Pernahkah kamu lupa pada amanah kecil yang ternyata berarti besar buat orang lain?
Kamu nggak perlu menjawab di sini. Simpan di hati, atau tulis di catatanmu.
Kamu juga punya cerita
Kalau kamu punya cerita soal lupa atau justru berhasil menepati amanah di saat sulit, bagikan di sini. Siapa tahu jadi pengingat buat yang lain.
Ceritakan CeritamuLatihan dengan tema yang sama
Mengakui kesalahan dan memperbaiki kebiasaan
Dialog, komik, Level 0, dan kuis →