Ceritakan Ceritamu
Episode 7

Kakak, Adik, dan Kamar yang Sepi

±3 menit · cerita interaktif

Hai, sini dulu. Duduk dulu sebentar. Aku mau cerita soal keponakanku, Nisa. Umurnya tujuh tahun.

Tiga bulan terakhir ini, dia jadi kakak. Adik bayinya lahir, lucu banget. Tapi Nisa… berubah.

Komik: Nisa duduk sendirian di ruang tamu, memeluk lutut, menatap pintu kamar yang tertutup.

Dulu dia cerewet, sekarang sering diam. Dulu mainnya di ruang tengah, sekarang milih di kamar. Kata ibuku, dia merasa rumahnya jadi sepi.

Pernah nggak kamu ngerasa tiba-tiba jadi asing di rumah sendiri?

Pilih salah satu:

Teman ceritaRasanya aneh ya, padahal tempatnya sama, orangnya sama. Tapi kita yang berubah.

Teman ceritaSyukurlah. Tapi buat anak kecil, perubahan sekecil apa pun bisa terasa besar.

Nah, Nisa lagi di posisi itu. Semua orang sibuk sama si bayi. Dia nggak ngambek, nggak nangis. Cuma makin pelan ngomongnya.

“Bunda, aku boleh bantu apa?”

Itu yang dia tanya tiap sore. Kadang ibunya jawab, 'Nggak usah, Nak. Adik lagi tidur.' Kadang cuma, 'Nanti ya.'

Aku pernah main ke rumahnya. Nisa duduk di samping ranjang bayi, cuma ngeliatin adiknya. Lama.

Komik: Nisa berdiri di samping ranjang bayi, menatap adiknya yang tidur, wajahnya datar.

Aku tanya, 'Kamu sayang sama adik?' Dia ngangguk. Tapi matanya kayak lagi mikir sesuatu yang berat.

Menurutmu, apa yang paling dibutuhkan anak di situasi kayak gini?

Pilih salah satu:

Teman ceritaIya, kadang mereka cuma butuh didengar. Bukan dinasihati.

Teman ceritaBetul. Merasa berguna itu penting banget buat anak, apalagi setelah posisinya berubah.

Teman ceritaNah, ini juga. Perhatian penuh walau cuma sepuluh menit, buat anak bisa jadi hari yang baik.

Malamnya, aku lihat ibunya mulai sadar. Dia ajak Nisa duduk di kursi, baca buku bareng. Cuma berdua.

Komik: Nisa duduk di kursi bersama ibunya, keduanya memegang buku bergambar.

Nisa nggak langsung ceria. Tapi dia mulai cerita soal sekolah, soal temennya yang suka pinjam penghapus.

“Bunda, besok aku boleh bacain adik buku ini?”

Ibunya ngangguk sambil senyum. Pelan-pelan, Nisa mulai ngerasa dia tetap punya tempat.

Aku juga sempat ngobrol sama ayahnya. Katanya, mereka mulai biasain minta tolong hal kecil ke Nisa. Ambilin popok, jagain adik pas lagi disuapin.

Bukan buat nyuruh, tapi biar Nisa tahu: dia tetap anak yang penting di rumah itu.

Kalau kamu jadi kakaknya, kira-kira kamu bakal gimana?

Pilih salah satu:

Teman ceritaItu juga cara yang jujur. Kadang kita cuma butuh dipeluk tanpa perlu jelasin apa-apa.

Teman ceritaMasuk akal. Tapi kalau terus-terusan sendiri, rumah makin terasa sepi.

Teman ceritaBagus. Anak-anak juga perlu belajar bilang apa yang mereka rasain, walau nggak gampang.

Seminggu kemudian, Nisa bikin kertas lipat kecil buat adiknya. Dia taruh di ujung ranjang.

Komik: Nisa berdiri di ambang pintu sambil memegang kertas terlipat, ayahnya berjongkok mendengarkan.

“Ini buat adik. Nanti kalau udah gede, aku ajarin bikin.”

Ayahnya dengar itu, langsung jongkok sejajar sama Nisa. 'Terima kasih, Kakak. Adik pasti senang.'

Nisa masih pendiam, tapi matanya udah nggak seberat dulu. Dia mulai nemuin cara jadi kakak tanpa kehilangan dirinya.

Nah, gitu ceritanya. Makasih ya udah dengerin. Kadang kita lupa, yang kecil juga punya perasaan yang besar.

Pertanyaan untukmu

Kapan terakhir kali kamu merasa dilibatkan, dan itu mengubah harimu?

Kamu nggak perlu menjawab di sini. Simpan di hati, atau tulis di catatanmu.

Kamu juga punya cerita

Kalau kamu punya cerita soal jadi kakak, adik, atau orang tua, boleh banget cerita di sini. Siapa tahu ada yang butuh dengar.

Ceritakan Ceritamu
← BerandaArsip cerita