Nadia Mau Berhenti Mengaji
Hai, sini dulu. Duduk sebentar. Aku mau cerita soal Nadia, anak temanku. Baru sembilan tahun, tapi pikirannya kadang kayak orang dewasa.
Suatu sore, sepulang mengaji, Nadia bilang ke ayahnya:
“Yah, Nadia mau berhenti mengaji aja.”
Ayahnya nggak langsung jawab. Beliau cuma tarik napas pelan, terus duduk di kursi dekat jendela.

Menurut kamu, kalau anak tiba-tiba bilang mau berhenti dari kebiasaan baik, apa reaksi pertama yang paling wajar?
Teman ceritaWajar banget, rasa penasaran itu muncul duluan. Untungnya Ayah Nadia juga memilih bertanya, bukan menuduh.
Teman ceritaAku juga gitu kalau dengar anak berubah pikiran. Tapi Ayah Nadia berusaha nahan dulu perasaannya, biar Nadia nggak takut cerita.
Teman ceritaItu pilihan yang tenang. Kadang anak butuh ruang supaya berani ngomong jujur.
Ayah Nadia akhirnya tanya pelan-pelan, "Nadia capek, atau ada sesuatu yang bikin nggak nyaman di tempat mengaji?"
Nadia diem dulu. Terus matanya mulai berkaca-kaca. Katanya, beberapa hari terakhir dia sering dimarahi temannya karena bacaannya masih terbata-bata.
“Nadia malu, Yah. Kayak Nadia paling nggak bisa di kelas.”
Ayahnya nggak bilang, "Ah, gitu aja kok malu." Beliau malah bangkit, ambil segelas air, terus duduk di samping Nadia.

Pernah nggak kamu ngerasa malu karena belum bisa sesuatu, padahal orang lain kelihatannya udah lancar?
Teman ceritaHampir semua orang pernah ngalamin. Rasa malu itu nyata, apalagi kalau ada yang ngingetin dengan cara kurang enak.
Teman ceritaAku paham. Kadang kita butuh diingatkan pelan-pelan, bukan disuruh cepat-cepat. Nadia juga begitu.
Teman ceritaAlhamdulillah kalau begitu. Tapi buat anak-anak, perasaan malu bisa jadi besar banget walau masalahnya kelihatan kecil.
Ayah Nadia cerita, dulu beliau juga pernah hampir berhenti ikut lomba tilawah karena malu, suaranya masih kaku.
Tapi gurunya bilang, "Kamu jangan berhenti karena malu. Berhenti itu gampang. Terus belajar itu yang berat, tapi itu yang bikin kamu beda."
Ayah Nadia nggak nyuruh Nadia langsung balik ke tempat mengaji. Beliau cuma nawarin:
“Mulai besok, kita ngaji bareng di rumah dulu, pelan-pelan. Kalau udah pede, Nadia yang putuskan mau lanjut di kelas atau cari tempat lain.”
Nadia nggak jawab iya atau nggak. Cuma manggut pelan sambil minum airnya.

Menurutmu, kalau kamu jadi Nadia, kamu bakal pilih lanjut di tempat yang sama, cari tempat baru, atau berhenti dulu?
Teman ceritaMasuk akal. Kadang suasana baru bikin kita lebih tenang buat mulai lagi.
Teman ceritaItu pilihan yang berani. Nadia juga akhirnya mempertimbangkan ini setelah beberapa hari.
Teman ceritaBoleh jadi. Istirahat sebentar kadang bikin hati lebih siap. Tapi Ayahnya tetap ajak Nadia ngaji ringan di rumah.
Beberapa hari kemudian, Nadia mulai ngaji di teras rumah sama ayahnya. Sore-sore, habis asar. Pelan-pelan, nggak dikejar target.
Lama-lama Nadia sendiri yang bilang, "Yah, kayaknya Nadia mau coba balik lagi ke tempat ngaji. Tapi nanti berangkatnya sama Ayah, ya."
Ayahnya cuma jawab, "Bismillah. Siap. Ayah anter."
Nadia belum langsung lancar. Kadang masih malu. Tapi sekarang dia tahu, malu nggak harus bikin berhenti. Bisa jadi alasan buat pelan-pelan lagi.

Aku senang lihatnya. Bukan karena Nadia langsung pinter ngaji, tapi karena dia berani cerita dan ayahnya mau dengar.
Kadang anak bukan mau berhenti. Dia cuma butuh didengar dulu, biar nggak jalan sendirian.
Makasih, ya, udah dengerin cerita ini. Aku pamit dulu. Sampai ketemu di cerita lain.
Pertanyaan untukmu
Kapan terakhir kali kamu merasa didengar tanpa buru-buru dinasihati?
Kamu nggak perlu menjawab di sini. Simpan di hati, atau tulis di catatanmu.
Kamu juga punya cerita
Kalau kamu punya cerita soal anak, keponakan, atau adik yang tiba-tiba mau berhenti dari kebiasaan baiknya, ceritakan ke aku. Siapa tahu jadi pelajaran buat kita semua.
Ceritakan CeritamuLatihan dengan tema yang sama
Mendampingi anak yang kehilangan semangat
Dialog, komik, Level 0, dan kuis →