Segelas Teh untuk Laras
Hai, sini duduk dulu. Aku mau cerita soal temanku, Laras. Nggak panjang kok.
Senin kemarin, harinya berantakan dari pagi. Keretanya telat, terus penuh banget. Dia berdiri sejam, kegencet tas orang, dan belum sempat sarapan.

Kamu pernah punya pagi yang kayak gitu? Yang belum apa-apa rasanya udah capek duluan?
Teman ceritaSama. Kadang hari terasa berat bahkan sebelum dimulai. Dan itu nggak berarti kamu lemah.
Teman ceritaSyukurlah. Tapi pasti kamu kenal seseorang yang sering begitu, kan? Laras salah satunya.
Sampai kantor, Laras langsung dipanggil atasannya. Ada angka yang salah di laporan yang dia kerjakan sampai larut malam.
Atasannya nggak teriak. Cuma bilang pelan, “Kok bisa teledor begini?” Tapi justru itu yang bikin dadanya sesak seharian.

Kalau kamu jadi Laras, sore itu kamu bakal ngapain?
Teman ceritaWajar banget. Laras juga maunya begitu. Tapi perutnya keroncongan, jadi dia mampir dulu.
Teman ceritaItu yang akhirnya Laras lakukan, walau awalnya cuma karena lapar.
Dia berhenti di warung kecil dekat stasiun. Pesan nasi, lalu duduk diam. Matanya mulai panas.
Ibu pemilik warung meletakkan segelas teh di depannya. Laras bilang dia nggak pesan teh. Ibu itu cuma senyum.

“Minum dulu, Nak. Muka kamu kayak habis kehujanan, padahal langitnya cerah.”
Kamu pernah dapat kebaikan kecil dari orang yang nggak kamu kenal, pas lagi butuh-butuhnya?
Teman ceritaRasanya susah dilupakan, ya. Kadang kita bahkan nggak sempat tahu namanya.
Teman ceritaMungkin karena kebaikan kecil sering lewat tanpa kita sadari. Laras pun hampir nggak menyadarinya.
Teman ceritaKamu beruntung. Dan mungkin, tanpa sadar, kamu juga sering jadi kebaikan kecil buat orang lain.
Laras ketawa kecil, lalu nangis sebentar. Ibu itu nggak tanya apa-apa. Dia cuma lanjut menggoreng tempe sambil sesekali menoleh, memastikan Laras baik-baik saja.
Teh itu nggak membereskan laporannya. Atasannya juga tetap kecewa. Tapi Laras pulang dengan perasaan yang beda: ternyata masih ada orang yang melihat dia.

Malamnya Laras memperbaiki angka yang salah. Lalu dia menulis satu kalimat di bukunya: “Besok, aku mau jadi segelas teh buat seseorang.”
Udah, itu ceritanya. Makasih ya udah dengerin sampai sini.
Pertanyaan untukmu
Siapa yang pernah jadi “segelas teh” buatmu di hari yang berat, dan kepada siapa kamu ingin menjadi segelas teh minggu ini?
Kamu nggak perlu menjawab di sini. Simpan di hati, atau tulis di catatanmu.
Kamu juga punya cerita
Setiap hidup punya cerita, termasuk hidupmu. Suatu hari nanti, ceritamu bisa jadi “segelas teh” buat orang lain.
Ceritakan CeritamuLatihan dengan tema yang sama
Didengar saat hari terasa berat
Dialog, komik, Level 0, dan kuis →