Titipan dari Ibu Mertua
Hai, sini dulu. Aku mau cerita soal temanku, Ratna. Tadi sore dia mampir, katanya mau numpang cerita sambil bawa gorengan.
Ceritanya soal mudik minggu lalu. Sebenarnya menyenangkan, cuma ada satu hal yang bikin dia pulang dengan dada agak sesak.
Waktu mau balik ke kota, ibu mertuanya sudah siapkan titipan. Dua kantong besar isi rendang, sambal, kerupuk, sampai sayur yang harus cepat dimasak.

Ratna sebenarnya mau bilang, kulkas di rumahnya kecil dan dia sudah bawa banyak oleh-oleh dari orang tuanya sendiri. Tapi mulutnya malah bilang, "Iya, Bu, nggak apa-apa."
Kamu pernah nggak, sungkan menolak padahal sebenarnya keberatan?
Teman ceritaWajar kok. Kita sering takut dianggap nggak enak hati. Tapi lama-lama, badan kita sendiri yang capek.
Teman ceritaIya, apalagi kalau yang minta orang yang kita hormati. Rasanya berat buat bilang tidak.
Teman ceritaBagus dong. Berarti kamu sudah terbiasa jujur sama kemampuan diri. Ratna masih belajar ke sana.
Di perjalanan, Ratna duduk di bus sambil memangku dua kantong besar itu. Lengannya pegal, tapi pikirannya lebih ramai lagi.

Dia tahu ibu mertuanya memberi karena sayang. Bukan mau merepotkan. Tapi Ratna juga sadar, dia sering bilang iya karena takut dianggap menolak kebaikan.
Sampai rumah, suaminya bantu angkut barang. Melihat isi kantong itu, suaminya cuma bilang pelan.
“Kamu kenapa nggak bilang ke Ibu? Kan kulkas kita nggak muat.”
Ratna diam sebentar. Lalu jawabnya jujur.
“Aku nggak enak. Takut Ibu kecewa.”
Suaminya nggak marah. Dia malah duduk di samping Ratna, ikut memilah makanan mana yang bisa disimpan, mana yang harus segera dimasak.

Malamnya, Ratna berdoa pelan. Dia minta hati yang lebih tenang dan keberanian untuk bicara jujur, bukan karena nggak sayang, tapi karena ingin memberi yang terbaik.
Besoknya, dia menelepon ibu mertuanya. Bukan untuk menolak, tapi untuk bilang terima kasih dan menyampaikan dengan lembut.
“Bu, lain kali titipnya jangan terlalu banyak. Ratna senang, tapi takut nggak bisa jaga makanannya tetap enak.”
Ibu mertuanya tertawa kecil. Katanya, justru dia senang Ratna jujur. Jadi tahu apa yang dibutuhkan, bukan cuma yang ingin diberikan.
Kalau kamu jadi Ratna, kira-kira kamu bakal langsung jujur atau menunggu waktu yang pas?
Teman ceritaItu pilihan berani. Kadang kejujuran yang disampaikan baik-baik malah makin dihargai.
Teman ceritaMasuk akal juga. Suasana hati yang tenang bikin kata-kata lebih mudah diterima.
Ratna cerita, sejak itu dia belajar menimbang dulu sebelum bilang iya. Bukan berarti jadi pelit menerima, tapi lebih sadar sama kemampuannya.
Dia juga mulai mencatat apa saja yang dibutuhkan rumah, jadi kalau ada yang mau menitip, dia bisa bilang dengan jelas.

Sekarang, titipan dari ibu mertuanya tetap ada, tapi jumlahnya sudah disesuaikan. Malah jadi lebih sering telepon, karena obrolannya makin terbuka.
Ratna bilang, menolak dengan jujur ternyata bukan memutus rasa sayang. Justru menjaga supaya kebaikan itu bisa diterima dengan hati yang lapang.
Nah, gitu ceritanya. Makasih ya udah dengerin sampai habis.
Pertanyaan untukmu
Apa yang biasanya paling sulit kamu katakan saat harus menolak permintaan orang terdekat?
Kamu nggak perlu menjawab di sini. Simpan di hati, atau tulis di catatanmu.
Kamu juga punya cerita
Kalau kamu punya cerita soal sungkan menolak, boleh banget cerita ke aku. Siapa tahu kita sama-sama belajar dari pengalamanmu.
Ceritakan CeritamuLatihan dengan tema yang sama
Batasan yang hangat dalam keluarga
Dialog, komik, Level 0, dan kuis →