Uang Kopi dan Teman Lama
Eh, sini duduk dulu. Aku baru ingat cerita soal temanku, Dimas. Beberapa bulan lalu dia dihubungi teman lamanya waktu kuliah.
Temannya itu, sebut saja Rina, tiba-tiba mengirim pesan. Katanya sedang butuh uang untuk biaya anaknya masuk sekolah.
“Mas, maaf ya tiba-tiba. Aku lagi benar-benar kepepet. Bisa pinjam dulu nggak? Dua minggu lagi aku kembalikan.”

Dimas terdiam. Jumlahnya lumayan, padahal dia sendiri lagi nabung buat servis motor. Kamu pernah di posisi kayak gitu nggak?
Teman ceritaBerat ya, antara ingin membantu dan memikirkan kebutuhan sendiri. Itu wajar banget.
Teman ceritaSyukurlah. Tapi bayangkan saja, posisi Dimas itu seperti ditarik dari dua arah.
Akhirnya Dimas transfer juga. Dia pikir, dulu Rina pernah bantu dia waktu kesulitan cari tempat kos. Utang budi itu yang dia ingat.
Dua minggu berlalu, lalu sebulan, lalu dua bulan. Rina belum juga mengembalikan. Malah jarang membalas pesan.

Suatu siang, tanpa sengaja mereka ketemu di kedai kopi dekat rumah. Rina kelihatan salah tingkah. Dimas cuma tersenyum dan menyapanya lebih dulu.
“Dim, soal uang itu… maaf banget. Aku belum bisa. Suamiku kena potong gaji bulan ini.”
Nah, di sini Dimas diuji. Kalau kamu jadi dia, apa yang bakal kamu lakukan saat momen itu?
Teman ceritaItu hakmu, dan menanyakannya baik-baik itu wajar. Dimas juga ingin kepastian.
Teman ceritaSikap yang lega. Kadang orang hanya butuh ruang untuk tidak merasa dikejar-kejar.
Teman ceritaJujur, itu juga manusiawi. Memendam kesal itu melelahkan, tapi kamu berhak merasakannya.
Dimas menarik napas pelan. Dia ingat pesan ibunya dulu: rezeki itu nggak akan ketuker. Dia pun berusaha menenangkan diri.
“Nggak apa-apa, Rin. Aku paham. Yang penting kamu kabari, biar aku nggak nunggu tanpa kejelasan. Semoga urusan keluargamu segera dimudahkan.”
Rina terlihat lega, matanya berkaca-kaca. Dia berjanji akan mencicil semampunya. Dan benar, minggu berikutnya dia mengirim sebagian kecil dulu.
Dimas bilang ke aku, dia nggak mau uang itu merusak pertemanan. Tapi dia juga belajar untuk lebih hati-hati dan menetapkan batasan.

Menurutmu, apa hal paling sulit dari situasi kayak gini?
Teman ceritaIya, dua-duanya penting. Percaya pada niat baik, tapi tetap jaga diri.
Teman ceritaBener banget. Nada bicara dan pilihan kata jadi kunci utamanya.
Sampai sekarang uang itu belum sepenuhnya kembali, tapi hubungan mereka tetap baik. Dimas bilang, kadang menjaga hati lebih penting daripada menagih sampai tuntas.

Ya, begitu ceritanya. Makasih ya udah dengerin sampai habis. Kadang cerita kayak gini cuma butuh didengar, biar nggak mengendap.
Pertanyaan untukmu
Apa yang lebih kamu jaga saat meminjamkan sesuatu ke teman: uangnya atau hubungannya?
Kamu nggak perlu menjawab di sini. Simpan di hati, atau tulis di catatanmu.
Kamu juga punya cerita
Kalau kamu punya cerita serupa, coba ceritakan di sini. Siapa tahu teman lain sedang butuh sudut pandangmu.
Ceritakan CeritamuLatihan dengan tema yang sama
Pertemanan, pinjaman, dan kejelasan batas
Dialog, komik, Level 0, dan kuis →