Utang Budi ke Pak Harun
Hai, sini duduk dulu. Aku mau cerita soal temanku, Rizal. Ceritanya sederhana, tapi aku rasa kamu pernah ngerasain hal yang mirip.
Rizal itu orangnya mandiri. Tapi beberapa bulan ini, hidupnya lagi nggak gampang. Ibunya sakit, biaya numpuk, dan dia nggak mau merepotkan siapa pun.
Nah, ada tetangganya, Pak Harun. Pensiunan guru. Rumahnya persis di seberang. Orangnya tenang, nggak banyak bicara, tapi selalu tahu kapan harus hadir.

Suatu sore, Rizal lagi duduk di ruang tamu sambil mikir keras. Di tangannya ada amplop berisi uang pinjaman yang belum bisa dia kembalikan.
“Gimana caranya ya, aku bisa balas semua kebaikan Pak Harun? Nggak cuma uang, tapi tenaganya, waktunya...”
Kamu pernah nggak ngerasa kayak gitu? Dibantu orang sampai nggak tahu harus balas gimana?
Teman ceritaBerat ya. Kita jadi merasa punya tanggung jawab yang nggak keliatan ujungnya. Tapi perasaan itu juga tanda kamu orang yang tahu diri.
Teman ceritaSemoga nggak perlu. Tapi kalau suatu hari kamu di posisi itu, semoga ketemu orang seperti Pak Harun juga.
Nah, Rizal cerita, Pak Harun itu nggak pernah minta apa-apa. Bahkan pas Rizal mau nyicil, Pak Harun cuma bilang, "Santai, yang penting ibumu sembuh dulu."
“Kamu nggak usah mikirin itu dulu, Zal. Kita tetangga. Saling bantu itu biasa.”
Tapi justru itu yang bikin Rizal makin nggak enak. Dia ngerasa utang budinya makin numpuk.

Suatu pagi, Pak Harun datang bawa beras dan lauk. Katanya, "Kebetulan ada rezeki, dibagi ya." Rizal cuma bisa bilang terima kasih sambil ngerasa makin kecil.
Menurutmu, kalau jadi Rizal, kamu bakal langsung nolak bantuan itu atau terima dulu?
Teman ceritaItu juga yang Rizal lakukan. Dia terima dengan hormat, sambil dalam hati berjanji untuk nggak lupa.
Teman ceritaWajar sih sungkan. Tapi menolak bantuan tulus kadang malah bikin yang memberi merasa nggak berguna.
Singkat cerita, ibu Rizal mulai pulih. Rizal pun mulai bisa kerja lebih tenang. Tapi pikirannya masih satu: gimana cara membalas Pak Harun.
Dia coba tanya pelan-pelan ke istrinya Pak Harun, apa yang sedang dibutuhkan. Jawabannya cuma, "Bapak itu senangnya kalau ada teman ngobrol. Sama, kalau tanamannya disiram."

Akhirnya Rizal mulai rutin ke rumah Pak Harun. Kadang cuma duduk di bangku bambu, dengerin cerita masa muda. Kadang bantu nyiram tanaman pagi-pagi.
“Saya nggak butuh dibayar, Zal. Saya cuma butuh dilihat. Kamu datang, ngobrol, itu sudah lebih dari cukup.”
Rizal bilang, dia baru paham. Utang budi nggak selalu harus dibayar dengan hal yang sama. Kadang, kehadiran dan perhatian itu balasannya.
Kamu sendiri, kalau punya utang budi ke orang, kira-kira apa yang bisa kamu lakukan selain uang?
Teman ceritaItu sering lebih berarti dari apa pun. Orang yang tulus biasanya cuma ingin diingat dan ditemani.
Teman ceritaDoa itu hadiah yang nggak keliatan, tapi sampai. Apalagi kalau disertai perhatian kecil yang konsisten.

Sampai sekarang, Rizal masih nyicil uang pinjamannya pelan-pelan. Tapi dia nggak lagi ngerasa sesak. Dia tahu, caranya menghargai Pak Harun udah dia lakukan setiap hari.
Itu cerita Rizal. Nggak ada yang dramatis, tapi aku rasa banyak dari kita pernah ngerasain hal yang sama.
Makasih ya udah dengerin. Semoga kita semua bisa jadi orang yang tahu cara berterima kasih, dengan cara apa pun yang bisa kita lakukan.
Pertanyaan untukmu
Siapa orang yang paling kamu rasa berutang budi, dan apa hal kecil yang bisa kamu lakukan minggu ini untuk menghargainya?
Kamu nggak perlu menjawab di sini. Simpan di hati, atau tulis di catatanmu.
Kamu juga punya cerita
Kalau kamu punya cerita soal utang budi atau dibantu orang lain, ceritain juga dong. Siapa tahu ada yang lagi butuh mendengarnya.
Ceritakan CeritamuLatihan dengan tema yang sama
Menerima bantuan dan berterima kasih
Dialog, komik, Level 0, dan kuis →